Cari Blog Ini

Rabu, 20 Februari 2013

Laki-laki Adalah "Milik" Orangtuanya

Membaca judul di atas pada sebuah artikel di majalah online membuat batinku terusik. Sebenarnya aku tidak perlu kaget dengan judul tersebut. Bahkan aku sudah lumayan "tahu" (tapi mungkin belum paham) dengan pernyataan tersebut.

Beberapa hari sebelumnya, seorang teman kantor curhat tentang kondisi suaminya. Pasangan tersebut sudah menikah selama hampir 4 tahun dan dikaruniai seorang putra. Tapi si istri merasa masih belum bisa memahami suaminya yang lebih mementingkan kedua orangtuanya yang sudah renta. Teman sekantorku merasa jadi nomor dua dalam hal nafkah dan kasih sayang. Merasa kurang diurus dan diperhatikan suaminya.
Pada saat itu nasihat yang keluar dari mulutku adalah "jeng, ingat.. anak laki-laki itu wajib taat kepada Ibunya bukan istrinya. sedangkan istri wajib patuh pada suami". Aku ingat hadits berikut;  diriwayatkan bahwa Aisyah Ra bertanya kepada Rasulullah Saw, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?” Rasulullah menjawab, “Suaminya” (apabila sudah menikah). Aisyah Ra bertanya lagi, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Ibunya” (HR. Muslim)
Teman kantorku terdiam dengan mata nanar, dan kalimat selanjutnya yang keluar dari mulutku; "sabar ya, jeng.., kita yang harus mengerti kondisi suami. Apalagi bila orangtua suami kita sudah renta, kita yang masih muda seharusnya lebih mengerti" lancar jaya kalimat nasihatku.

Dan kini ketika tanpa sengaja aku membaca judul artikel yang ku baca, tiba-tiba ada perasaan lain (sebagai seorang istri tentunya) tentang kedudukan istri dan orangtua suami. Aku yang 'sangat' menyayangi suamiku kadang terbersit rasa cemburu saat suami mudik ke kampung halamannya untuk menengok keluarganya. Sehari semalam saja suamiku mudik, rasanya seperti setahun. Apalagi kalau aku tidak diajaknya untuk ikut mudik. Uggh... ga karuan rasanya. Aku mulai memahami perasaan teman sekantorku tadi.

Lama sekali aku mencermati artikel dengan judul yang sama dengan judul tulisanku ini. Betapa tidak adilnya bagi seorang istri yang harus jadi no.2 setelah orang tua suami. Aku sih merasa tidak posesif terhadap suami tapi kadang sebagai seorang istri, aku ingin menjadi nomor satu di hadapan suami. 

Ada lagi cuplikan artikel lain yang ku baca; Jangan Korbankan Orang Tua Demi Istri,Meskipun Ia Cantik!


Allah Swt berfirman, “…dan hendaklah kamu bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu” (QS. Luqman:14).

Begitu penting berbuat baik dan berterima kasih kepada kepada kedua orang tua kita, sampai Rasulullah bersabda, “Ridha Allah terdapat pada keridhaan orang tua. Dan murka Allah terdapat pada kemurkaan orang tua” (HR. Turmudzi).

MashaAllah... bukannya aku merasa cantik (ciee..) tapi dengan kecantikan, kepintaran dan kekayaan pun seorang suami tidak boleh mengorbankan orangtuanya demi si istri. Berbeda jauh dengan kenyataan sekarang ini, banyak suami tunduk pada istri dan mengorbankan orang tuanya. Astaqfirullah... aku sungguh tidak ada maksud menjadi istri yang membuat suami mendzolimi orang tuanya. Hanya saja aku masih berharap para suami tetap memuliakan istri mereka sementara mereka tidak melupakan untuk memuliakan orangtua mereka juga. Proporsional lah... ketika harus mengurus orang tua, jangan lupa mengurus dan memperhatikan anak istrinya juga. Semoga suamiku termasuk laki-laki yang tidak mendzolimi orangtuanya tapi juga tidak lupa "memperhatikan" istri (dan anaknya kelak). 

Seorang suami yang baik memang seharusnya dengan bijak memberi pengertian kepada istri agar mengerti bahwa laki-laki yang sudah menikah berkewajiban mengurus Ibunya-orangtuanya. Bahkan ketika suami membei nafkah kepada orangtuanya, si istri tidak perlu khawatir rizki mereka akan berkurang.Untuk hal itu sendiri aku sama sekali tidak keberatan, karena aku yakin Allah SWT malah akan melipatgandakan rizki pada keluarga itu. Hanya (lagi...) kadang istri cemburu dengan perhatian kasih sayang suami ke keluarganya. plisss... semoga hal itu masih dalam kewajaran.

Ketika aku sensitif sekali dengan bahasan ini mungkin karena aku sedang hamil, anak pertama lagi. Sifat childish untuk selalu diperhatikan orang-orang terdekat terlebih suami selalu mendominasi. Tidak mau ditinggal suami barang sedetikpun. Pinginnya selalu dimanja dan diperhatikan. Kemanapun suami pergi maunya nginthil terus. Cemburu berlebihan ketika suami asyik ngobrol dengan wanita teman sekantornya, padahal mungkin topiknya seputar pekerjaan saja. Perasaan aneh yang baru aku rasakan selama hamil. Terlalu sensitif, melankolis dan kadang di luar logika. 

Ya Rabb.. pahamkan aku tentang kedudukan istri agar aku bisa lebih bijak lagi. Jangan Kau jadikan aku istri yang dzolim dan tidak taat pada suami. Jadikan suamiku seorang yang bijak dan arif, tidak bosan menasihati ketika istri khilaf dan lupa. Buat my Darl, I luv you so... because of Allah.

Minggu, 10 Februari 2013

Bersiap Menjadi Seorang Ibu


Bismillah...
Tinggal menghitung hari, aku akan melahirkan buah cinta kami  yang pertama. Berdasarkan hasil USG, janin dalam rahimku berjenis kelamin laki-laki. hmm... kalau orangtua dan mertuaku tau, meraka pasti sangat gembira. secara mereka sangat menginginkan cucu laki-laki, seperti suamiku berharap anak pertama kami seorang yang ganteng.
Apapun nanti jenis kelaminnya, tentu saja sangat kami syukuri. Tidak masalah bagi kami laki-laki atau perempuan. Kesyukuran dan nikmat luar biasa Allah begitu cepat memberi kami rizki yang juga amanah untuk kami. Jadi tak henti-hentinya kami bersyukur terutama lewat doa kami atas nikmat ini.
Menunggu detik-detik melahirkan, apalgi untuk pengalaman kali pertama, tentu saja sangat mendebarkan. Cemas, takut tapi bahagia bercampur jadi satu. Perbanyak Doa dan positif thinking atau ber-husnudzon adalah caraku mengatasi kecemasan dan ketakutanku akan persalinan. Allah SWT itu sesuai prasangka hamba-Nya. Walaupun vonis dokter janinku overweight dan ada kemungkinan bedah Caesar tapi aku harus selalu yakin bahwa aku bisa melalui persalinan normal.
Aku rasa itulah salah satu bukti kesiapanku menjadi seorang Ibu, aku rela merasakan rasa sakit, merasakan bagaimana perjuangan seorang ibu untuk menjadi syahidah. Tapi,,, alangkah indahnya bila rasa sakit itu bisa diatasi, bisa dinikmati, bahkan bisa diminimalisir, hehehe...
Aku selalu bilang pada dede kecilku, "besok bantu Umi dorong ya de',,, dede yang kuat, insya Allah Umi juga kuat, biar kita tidak menyusahkan ibu Dokter atau Bidan, biar Abi tidak panik kelamaan nungguin Umi melahirkan"  xixixiixi... (secara suamiku dah mulai parno kalau harus melihat darah dan teriakan kesakitan)
bismillah, aku siap jadi Ibu yang Solihah... Kami siap jadi orang tua yang amanah. Ya Rabb,, mudahkanlah persalinanku. Lahirkan jundi kecil kami ke dunia dalam keadaan baik dan lancar. Aameen.